Awal
sebuah rasa manis akan tetap manis jika kita pintar mengolah rasa manis itu,
agar tetap manis. cerita ini berawal dari seorang cewek yang bernama Rani dan
seorang cowok yang bernama Aldi. Mereka sudah menjalin status pacaran mungkin
sekitar 2 tahun lebih. Mereka sangat cocok yang cewek egois si cowoknya tidak
egois, ini yang membuat mereka bisa bertahan lama bisa disebut saling melengkapi.
Sampai-sampai teman mereka iri dengan hubungan mereka yang jarang banget
berantem, (iya iyalah kan cowoknya yang
selalu ngalah). Coba kalau keduanya sama-sama tidak mau mengalah mungkin
tidak sampai dua tahun sudah putus.
Langit
mulai menampakkan rasa sedihnya dengan warna yang kelabu. Rani menatap sang
langit sejenak lalu merogoh tasnya. Setelah hampir mengeluarkan seluruh benda
yang ada didalam tasnya, akhirnya ia mendapatkan benda yang diinginkan. Rani
mendapati telephone genggamnya dan menelepon Aldi dan memberi tahu supaya Aldi
segera menjemputnya di sekolah, karena sebentar lagi hujan akan turun. Karena
Rani dan Aldi beda sekolah dan jarak antar sekolah mereka bisa dibilang cukup
jauh dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Rani sudah menunggu sekitar
setengah jam tapi sang pujaan hatinya tidak kunjung datang sampai halaman
sekolah berangsur-angsur sepi tapi Aldi tetap saja tak kunjung datang. Rani
yang sudah menunggu sekitar 1 jam merasa kesal terhadapnya.
Rani
yang menunggu di gerbang sekolah dengan mirna teman sebangkunya yang senasip
dengannya yang sama-sama menunggu jemputan. Untung rani ada temannya coba kalau
dia nunggunya sendirian bisa-bisa Aldi kena omel nanti di perjalanan pulang,
untungnya aldi sampai juga di sekolahnya rani dan berhenti di depan Rani dan
Mirna teman sebangkunya itu.
“Maaf telat sayang”
ujar Aldi yang merasa menyesal dan merasa takut kena omelan pacarnya itu.
Rani hanya senyum ketus
terhadapnya dan membuang buka ke Aldi dan senyum ke Mirna yang bertanda dia
akan duluan. Di perjalanan pulang Aldi yang mulai membuka obrolan.
“Maaf ya telat sayang,
tadi masih ada pengumuman makhlum udah kelas 12” kata Aldi yang berusaha ngasih
penjelasan supaya sang ceweknya tidak marah lagi padanya.
“Iya gpp kok” jawab
Rani dengan nada dan wajah yang ketus.
“kita lewat jalan dalem
saja ya, ntar takutnya kalau macet” ujar Aldi yang berusaha buat ceweknya agar
tidak marah lagi.
Rani
tak jawab apa-apa dan di pertengahan jalan hujan turun cukup deras, mereka
berhenti di pepohonan yang lumayan rindang tidak ada rumah disekitar situ yang
ada hanyalah sawah dan pepohonan. Dan disitulah Rani mau berbicara dengan Aldi.
“Agak sinian Al… kena
hujan lho ntar kamu” ujar Rani yang sedikit khuatir
Aldi yang merasa senang
karena dibalik marahnya ternyata ia masih khuatirinnya
“Iya sayang” jawab Aldi
dengan senyuman dan melepas jaketnya dan ia pakaikan ke tubuh Rani dari
belakang.
“Enggak usah” sambil ia
memandang ke arahnya
“Kenapa? Jaket ini kamu
pakai saja aku tidak apa-apa kok sayang” Aldi terus memaksa Rani untuk
memakainya.
“Makasih sayang” ujar
Rani dengan senyuman.
“Maafin aku tadi jemput
kamunya telat” ujar Aldi yang penuh rasa bersalah
“sebenernya aku enggak marah kok cuma tadi lagi ada
konflik saja sama temen sekelas ku, ehhh yang kena marahnya malah kamu, maafin
aku ya sayang” ujar Rani dengan senyuman dan candaannya.
“iya sayang gpp kok
lihat kamu senyum saja aku udah seneng kok” sambil nyium kening rani.
Udah
satu jam lebih mereka berteduh tapi sayangnya, hujan tak kunjung reda, akhirnya
mereka memutuskan untuk menerobos hujan tersebut tanpa sebuah jas hujan. Sampai
di rumahnya rani, aldi enggan untuk
mampir ia beralasan kalau baju yang ia pakai basah dan dia merasa
sungkan dengan baju yang ia kenakan itu basah kuyup, akhirnya Aldi pulang
sampai rumah ia mandi dan ketika selesai mandi ia nyalain hp dan hpnya tak
kunjung nyala. Mungkin karena efek kehujanan tadi.
Dirumah,
Aldi bingung tapi dibalik kebingungannya ia tak sedikitpun menyalahkan Rani. Ia
tetap memberi kabar ke rani dengan menggunakan hp milik ibunya. Tanpa
memberitahu kalau hpnya rusak akibat kehujanan tadi.
Entah
sejak kapan Rani dekat dengan seorang teman cowoknya, sebut saja namanya
Rangga. Hampir tiap detik ia selalu berkomunikasi entah lewat sosmed maupun
sekedar untuk mendengarkan suaranya. Tapi lama-kelamaan Rani dan Aldi mulai ada
jarak entah kenapa.. padahal mereka tak punya konflik untuk membuat sebuah
masalah.
Sungguh
kandasnya hubungan mereka telah berpisah. Rani yang memutuskan hubungan mereka.
Dan Rani lebih memilih Rangga yang playboy daripada Aldi yang telah baik
kepadanya. Hubungan Rani dan Rangga mungkin cuma bertahan sekitar 2 minggu
saja. Itu karena Rani tahu kalau Rangga tak sebaik yang dia pikirkan.
Mungkin
sudah satu tahun ini Aldi dan Rani tak berkomunikasi, suatu ketika Bapaknya
Rani masuk rumah sakit. Orangtua mereka sudah sangat dekat dan orangtuanya aldi
dan dirinya, menjenguk bapaknya rani di rumah sakit. Rani hanya menyapa mereka
dengan senyuman manis dan di balas juga dengan Aldi. Meskipun orangtua mereka
membahas tentang hubungan mereka tapi mereka masih tetap diam beribu bahasa.
Orangtua
Aldi dan dirinya hampir tiap hari selalu datang ke Rumah sakit biasanya
membawakan makanan dan biasanya sekedar untuk menemani keluarganya Rani waktu
malam menyapa. Di Malam hari Rani sendirian menatap langit di teras ruangan
rumah sakit Aldi yang tahu Rani sendirian lalu ia menyapanya dan mengajak ia
ngobrol`
“Hai… Gimana kuliah
kamu Ran, lama tak berjumpa” ujar Aldi yang hanya sekedar menanyakan kabarnya.
“Baik, kamu gimana
kerjanya?” jawab Rani yang setengah kaget dengan sapaan Aldi
“Alhamdulillah ya gitu
ran” balas Aldi
Tapi
percakapan mereka tak berlangsung lama karena Rani dipanggil oleh ibunya untuk
menjaga Bapaknya sementara ibunya pergi untuk makan malam dengan orang tua Aldi
dan Aldi.
Di
ruangan Rani hanya merenung kenapa Aldi tetap saja baik kepadanya dan
keluarganya padahal dirinya telah menghianatinya. Pengen rasanya rani untuk
baikan dengan Aldi tapi dirinya tidak yakin kalau dirinya tidak bakal
menghiatinya. Meskipun rani diberi lampu hijau oleh aldi tapi dirinya susah
untuk berjalan kearahnya.
KarangAn sendiri ya kak?
BalasHapusiya adek kenapa?
BalasHapus