Selasa, 09 Februari 2016

Bukan Apa-apa, Tapi......

Awal sebuah rasa manis akan tetap manis jika kita pintar mengolah rasa manis itu, agar tetap manis. cerita ini berawal dari seorang cewek yang bernama Rani dan seorang cowok yang bernama Aldi. Mereka sudah menjalin status pacaran mungkin sekitar 2 tahun lebih. Mereka sangat cocok yang cewek egois si cowoknya tidak egois, ini yang membuat mereka bisa bertahan lama bisa disebut saling melengkapi. Sampai-sampai teman mereka iri dengan hubungan mereka yang jarang banget berantem, (iya iyalah kan cowoknya yang selalu ngalah). Coba kalau keduanya sama-sama tidak mau mengalah mungkin tidak sampai dua tahun sudah putus.
Langit mulai menampakkan rasa sedihnya dengan warna yang kelabu. Rani menatap sang langit sejenak lalu merogoh tasnya. Setelah hampir mengeluarkan seluruh benda yang ada didalam tasnya, akhirnya ia mendapatkan benda yang diinginkan. Rani mendapati telephone genggamnya dan menelepon Aldi dan memberi tahu supaya Aldi segera menjemputnya di sekolah, karena sebentar lagi hujan akan turun. Karena Rani dan Aldi beda sekolah dan jarak antar sekolah mereka bisa dibilang cukup jauh dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Rani sudah menunggu sekitar setengah jam tapi sang pujaan hatinya tidak kunjung datang sampai halaman sekolah berangsur-angsur sepi tapi Aldi tetap saja tak kunjung datang. Rani yang sudah menunggu sekitar 1 jam merasa kesal terhadapnya.

Rani yang menunggu di gerbang sekolah dengan mirna teman sebangkunya yang senasip dengannya yang sama-sama menunggu jemputan. Untung rani ada temannya coba kalau dia nunggunya sendirian bisa-bisa Aldi kena omel nanti di perjalanan pulang, untungnya aldi sampai juga di sekolahnya rani dan berhenti di depan Rani dan Mirna teman sebangkunya itu.
“Maaf telat sayang” ujar Aldi yang merasa menyesal dan merasa takut kena omelan pacarnya itu.
Rani hanya senyum ketus terhadapnya dan membuang buka ke Aldi dan senyum ke Mirna yang bertanda dia akan duluan. Di perjalanan pulang Aldi yang mulai membuka obrolan.
“Maaf ya telat sayang, tadi masih ada pengumuman makhlum udah kelas 12” kata Aldi yang berusaha ngasih penjelasan supaya sang ceweknya tidak marah lagi padanya.
“Iya gpp kok” jawab Rani dengan nada dan wajah yang ketus.
“kita lewat jalan dalem saja ya, ntar takutnya kalau macet” ujar Aldi yang berusaha buat ceweknya agar tidak marah lagi.
Rani tak jawab apa-apa dan di pertengahan jalan hujan turun cukup deras, mereka berhenti di pepohonan yang lumayan rindang tidak ada rumah disekitar situ yang ada hanyalah sawah dan pepohonan. Dan disitulah Rani mau berbicara dengan Aldi.
“Agak sinian Al… kena hujan lho ntar kamu” ujar Rani yang sedikit khuatir
Aldi yang merasa senang karena dibalik marahnya ternyata ia masih khuatirinnya
“Iya sayang” jawab Aldi dengan senyuman dan melepas jaketnya dan ia pakaikan ke tubuh Rani dari belakang.
“Enggak usah” sambil ia memandang ke arahnya
“Kenapa? Jaket ini kamu pakai saja aku tidak apa-apa kok sayang” Aldi terus memaksa Rani untuk memakainya.
“Makasih sayang” ujar Rani dengan senyuman.
“Maafin aku tadi jemput kamunya telat” ujar Aldi yang penuh rasa bersalah
“sebenernya aku enggak marah kok cuma tadi lagi ada konflik saja sama temen sekelas ku, ehhh yang kena marahnya malah kamu, maafin aku ya sayang” ujar Rani dengan senyuman dan candaannya.
“iya sayang gpp kok lihat kamu senyum saja aku udah seneng kok” sambil nyium kening rani.
Udah satu jam lebih mereka berteduh tapi sayangnya, hujan tak kunjung reda, akhirnya mereka memutuskan untuk menerobos hujan tersebut tanpa sebuah jas hujan. Sampai di rumahnya rani, aldi enggan untuk  mampir ia beralasan kalau baju yang ia pakai basah dan dia merasa sungkan dengan baju yang ia kenakan itu basah kuyup, akhirnya Aldi pulang sampai rumah ia mandi dan ketika selesai mandi ia nyalain hp dan hpnya tak kunjung nyala. Mungkin karena efek kehujanan tadi.
Dirumah, Aldi bingung tapi dibalik kebingungannya ia tak sedikitpun menyalahkan Rani. Ia tetap memberi kabar ke rani dengan menggunakan hp milik ibunya. Tanpa memberitahu kalau hpnya rusak akibat kehujanan tadi.
Entah sejak kapan Rani dekat dengan seorang teman cowoknya, sebut saja namanya Rangga. Hampir tiap detik ia selalu berkomunikasi entah lewat sosmed maupun sekedar untuk mendengarkan suaranya. Tapi lama-kelamaan Rani dan Aldi mulai ada jarak entah kenapa.. padahal mereka tak punya konflik untuk membuat sebuah masalah.
Sungguh kandasnya hubungan mereka telah berpisah. Rani yang memutuskan hubungan mereka. Dan Rani lebih memilih Rangga yang playboy daripada Aldi yang telah baik kepadanya. Hubungan Rani dan Rangga mungkin cuma bertahan sekitar 2 minggu saja. Itu karena Rani tahu kalau Rangga tak sebaik yang dia pikirkan.
Mungkin sudah satu tahun ini Aldi dan Rani tak berkomunikasi, suatu ketika Bapaknya Rani masuk rumah sakit. Orangtua mereka sudah sangat dekat dan orangtuanya aldi dan dirinya, menjenguk bapaknya rani di rumah sakit. Rani hanya menyapa mereka dengan senyuman manis dan di balas juga dengan Aldi. Meskipun orangtua mereka membahas tentang hubungan mereka tapi mereka masih tetap diam beribu bahasa.
Orangtua Aldi dan dirinya hampir tiap hari selalu datang ke Rumah sakit biasanya membawakan makanan dan biasanya sekedar untuk menemani keluarganya Rani waktu malam menyapa. Di Malam hari Rani sendirian menatap langit di teras ruangan rumah sakit Aldi yang tahu Rani sendirian lalu ia menyapanya dan mengajak ia ngobrol`
“Hai… Gimana kuliah kamu Ran, lama tak berjumpa” ujar Aldi yang hanya sekedar menanyakan kabarnya.
“Baik, kamu gimana kerjanya?” jawab Rani yang setengah kaget dengan sapaan Aldi
“Alhamdulillah ya gitu ran” balas Aldi
Tapi percakapan mereka tak berlangsung lama karena Rani dipanggil oleh ibunya untuk menjaga Bapaknya sementara ibunya pergi untuk makan malam dengan orang tua Aldi dan Aldi.

Di ruangan Rani hanya merenung kenapa Aldi tetap saja baik kepadanya dan keluarganya padahal dirinya telah menghianatinya. Pengen rasanya rani untuk baikan dengan Aldi tapi dirinya tidak yakin kalau dirinya tidak bakal menghiatinya. Meskipun rani diberi lampu hijau oleh aldi tapi dirinya susah untuk berjalan kearahnya.

2 komentar: