Tak henti-hentinya HMJ PLS mengadakan acara, kemarin saja organisasi ini baru saja mengadakan sebuah acara FORKOM (Forum Komunikasi) dan Rabu, 23 maret 2015 HMJ PLS melaksanakan kegiatan yang tidak kalah menariknya dari acara sebelumnya yaitu Peran Mahasiswa di Dalam dan di Luar Kampus yang ketua pelaksananya yaitu Desfian Eka Ariwiguna 2015 off A, notulen Heni Wijayanti 2015 off A, moderator Diah Ayu Rohmani 2015 off A, dan pemateri yang bisa dibilang sudah banyak pengalaman dalam berorganisasi dan khususnya dalam lingkung PLS, yaitu bernama Rian Firmansyah angkatan 2012 konsentrasi pelatihan ia dari nganjuk yang terkenal dengan kota anginnya, ia alumni SMA Negeri 1 Gondang jurusan
Dalam makna pidato Ir Soekarno di hadapan Mahasiswa Indonesia di
Amerika Serikat pada tahun 1956 tersebut kita dapat mengenang pahlawan-pahlawan dan aktor intelektual yang
berpendidikan tinggi.
Baik tidaknya masa depan dapat dilihat saat ini. Akademi militer, polisi itu juga mahasiswa sama-sama kritis dalam mencapai tujuan bangsa Indonesia dan sadar pentingnya mencari ilmu. Ilmu bisa didapat melalui SKS, Organisasi,
maupun di luar jurusan, dan kita bisa peroleh ilmu itu di lingkungan kampus tercinta (Universitas Negeri Malang).
A.
Perguruan Tinggi dan Tradisi Akademik
Mahasiswa di tempa di kampus untuk mengetahui pentingnya
pendidikan, maka jangan perpreksi ke arah pekerjaan terlebih dahulu. Kita seorang mahasiswa, dan dosen itu bukan priyayi yang harus di tiru tapi dosen itu sebagai patner diskusi dan sharing-sharing
tentang PLS khususnya. Mahasiswa harus mampu melahirkan karakter yang mandiri,
reflektif dan kritis.
Menurut (Jose Ortega dalam Minhaji,2013:9) bahwa tugas
pokok perguruan tinggi mencakup tiga hal:
1).
Transmisi budaya, freksibel dan dinamis. Tidak usah muluk-muluk simpel saja mulailah hal yang
terkecil dan bisa berguna khususnya dimasyarakat. Itu saja sudah dinilai +
sebagai mahasiswa PLS.
2).
Pengajaran tentang profesi, tutor fasilitator keahlian dibidang PLS harus
diterapkan.
3).
Penelitian ilmiah dan pelatihan untuk menyiapkan para ilmuan, orang yang tidak
ahli dalam ilmiah berarti ia tidak bisa melakukan penelitian. Misalnya di
sebuah desa tidak ada karang tarunanya, Mahasiswa PLS di ajarkan tentang
pengabdian masyarakat, organisasi dan diskusi inovasi dari sinilah mahasiswa PLS
bisa menerapkannya di desa tersebut.
B. Sejarah Pergerakan Mahasiswa
Organisasi Nyetrik
yaitu Sarekat Priyayi (kumpulan
orang-orang priyayi) pada tahun 1906 pendirinya adalah Tirto Adi Surya jebolan
dari STOVIA. Pada tahun 1908 berdirilah Boedi
Oetomo dengan dipelopori oleh pemuda dan mahasiswa yang berada di STOVIA.
Dokter menghimpun masyarakat untuk suatu gerakan, penyadaran terhadap
pentingnya kemerdekaan, pentingnya perebutan hak asasi. Didiklah masyarakat dengan organisasi
didiklah pemimipin dengan perlawanan.
Banyaknya organisasi di luar kampus, organisasi kampus
baik, asal tidak multipraktis dalam intra kampus tapi sebaiknya lebih menuju ke
kegiatan masyarakat. Tapi jika kita bergabung di organisasi cuma beralasan
pekerjaan lebih baik Jangan. Sama
saja itu seorang pecundang bukan sebagai perintis. Mahasiswa PLS tidak
diajarkan sebagai pecundang tapi seorang perintis.
C. Peran dan Fungsi Mahasiswa
Membicarakan soal peran dan fungsi mahasiswa di era
teknologi yang semakin canggih seperti sekarang bisa dikatakan munafik dan omong kosong.
1. Agent of Change (Generasi Perubahan)
Mahasiswa mempunyai peran dan fungsi sebagai agen
perubahan. Hanafi (1993:61) menyebutkan bahwa “Agen pembaharu harus sebagai jembatan antara dua sistem yang berbeda
haruslah sosok yang marginal yang satu kakinya didunia lembaga pembaruan dan
yang lainnya di sistem binaan”. Tanpa merapat dan bergabung dengan suatu
komunitas atau organisasi merasa usaha menjadi agen of change hanyalah sebuah jargon busuk.
2. Social Control (Kontrol Sosial)
Fakta yang terjadi saat ini mahasiswa hanyalah sibuk dengan
nilai IPK, atau bisa dikatakan hanya kognitif
oriented. Tiga pokok yang harus dihidupkan di perguruan tinggi yaitu
pengajaran penelitian, penelitian dan pengabdian masyarakat.
3. Iron Stock (Generasi Penerus)
Mahasiswa dijadikan sebagai stock bangsa kalau stocknya
sudah brobrok atau rusak, sebaiknya
bangsa dihilangkan saja dan semoga Indonesia menjadi sejarah. Hilang kalau
generasi penerus tidak benar-benar di memperbaikinya.
4. Moral Force (Gerakan Moral)
Mahasiswa sebagai penyadar di lingkungan masyarakat
tentang moral-moral yang ada. Kita bukan enerasi wacana, kita bukan
generasi beo. Kita Perubahan, Kita Penggerak, dan Kita Perebut.
Pendapat Diskusi:
Wahidin: Bagaimana cara mempertahankan idealis kita dan
mengembangkannya jika lahan mahasiswa hanya dikampus, atau mempertahankan
idealisme ketika diluar kampus misalnya di masyarakat? Ketika didalam kampus buatlah
hal seideal mungkin, karena jika keluar kampus akan sangat sulit dan mudah
tersingkir. Masuk sistem dan perubahannya harus di siasati dan buat sebuah
perubahan. Hidup harus idealis tapi harus lihat siskon. Sebaiknya masuk sistem
dulu, asal bisa menajemen resiko.
Tambahan diskusi
dari Wendy: kita harus ada kemauan dan
kesempatan jika ada yang menghalanginya "tabrak" saja selama kita benar dan ada
kesempatan, wujudkan tujuan yang memang benar-benar kamu inginkan.
Wahid: Mahasiswa itu sebagai agent of change, di dalam
kenyataan mahasiswa PLS idealnya itu seperti apa? Idealnya tidak bisa
diterapkan. Bergabung dengan komunitas/ organisasi karena akan menjadi lahan
kita di tempa, agar siap terjun langsung ke masyarakat. Baca referensi yang ada
pada katalog karena itu akan sangat bermanfaat. sebelum menjadi mahasiswa
mandiri kita butuh bimbingan. Ciri khas PLS yaitu Berfikir beda, memiliki cara
pandang lain dengan jelas dan aktif dikegiatan
masyarakat. bukan hanya memberi uang (seperti
baksos) tapi juga harus bisa membangun motivasi.
Ridwan: Ciri-ciri mahasiswa mandiri itu sudah mampu dibangun,
bersifat reflektif setiap kegiatan yang di lakukan harus di refleksikan, kritis mahasiswa
banyak yang kurang kritis. ketika punya pendapat mereka takut menyampaikan. Itu
bagaimana, apa mental yang hraus dibangun atau lingkungan yang membuatnya seperti
itu? Setiap angkatan memiliki gaya sendiri-sendiri untuk menyikapi kritis.
Contoh PKM (Program Keluhan Mahasiswa) itu tidak sesuai masuk dalam sks. Pkm
menjadi bahan uas. banyak literasi dan bacaan maka berani mengkritis. Jika
tidak ya ngikut dan mengikuti alur. Membiasakan masuk dan berkecimpung dimata
kuliah. Secara tidak langsung kita ditekan. Jika ingin kreatif butuh sebuah
kebebasan. Balajar dari pengalaman yang memiliki banyak wacana dan rasa ingin
tahu yang tinggi. Jika ingin kritis ya harus memiliki banyak wacana. Pkm
sekarang telah menjadi momok untuk mahasiswa
jika tidak dikerjakan berarti ia berdosa. Pkm itu menulis tapi kita belum
diajarkan penulisan yang baik, ajarkan dulu entah sharing dengang senior. Jangan
langsung pukul rata, Pkm sekarang dengan paksaan karena jurusan ingin akreditasi A layak. Kalau
Pengen kritis banyaklah wacana dulu, banyak sharing, banyak sumber daftar
pustaka jurnal dll. Takut mengungkapkan pendapat itu hal yang wajar. Jika ingin
belajar secara cepat maka belajarlah berorganisasi. Puncak kebutuhan adalah
aktualisasi diri. Tunjukan jika kita bisa dan mantapkan tujuan kalian.
Niko : tidak setuju dengan point ke empat yang bagian moral
force. Itu tugas mahasiswa yang di hukum bukan tugas mahasiswa di FIP. jalan yang
lurus adalah urusan agama. Tanggapan dari Nizar:
ia setuju dengan moral force (generasi penerus dan pelurus). Sistem jika
dianalisa blenggar dengan apa yang kita tujukan. Bagaimana cara kita untuk
meluruskan itu tugas kita, sebagai gerakan pengubah moral.
Tambahan diskusi
dari Ardiansyah: Peran mahasiswa
harus punya Tujuan, manusia saja punya
tujuan (tujuan hidup) apalagi mahasiswa.
Tekankan tujuan yang lebih baik dari kemarin jangan menjadi mahasiswa yang hanya
menjadi Kupu-kupu. pertegaslah tujuan dan jangan mau menjadi pengikut.
Tambahan diskusi dari Wendy: Peran mahasiswa PLS ciri khasnya
yaitu rasa toleransi dan rasa menghargai tinggi. Sumber ilmu pertama dari kakak
tingkat, kedua teman, ketiga baru dari dosen. Mengawal kebijakan sendiri jika
salah dibenarkan. Kawal yang menghimpun kita, organisasi HMJ bukan hanya milik
anggota saja tapi milik bersama (semua mahasiswa
PLS).
Pengalaman
dari Ana: ini masalah dengan kritik dan
tujuan, hal sepele dikelas, istirahat jam 12.10 kita mahasiswa yang baik itu
tidak korupsi waktu. Sekarang menunjukan jam 12.00 ada salah satu teman kalian
yang ingin bertanya ke dosen, seharusnya kita mendukungnya bertanya bukan malah
melototinya dengan alasan jam sudah mepet. dari diri orang lain sebaiknya kita
juga mengkritiskan diri kita sendiri. Dan mulai sekarang kita dukung
teman-teman kita yang ingin bertanya meskipun jam sudah mepet.
Pengalaman dari Alifiah: peran mahasiswa pengalaman itu bisa merubah dunia diri kita
dan merubah dunia sekitar. Merubah diri kita yang pertama yaitu merubah mainset
diri kita sendiri, bahwa pendidikan itu penting. Ternyata skill harus diimbangi
dengan pengetahuan. Sejak ia bertemu kakak tingkat yang terkenal (Endah
Setiyowati) di organisasi kita baru tahu bagaimana cara menghadapi masalah. Di
dalam organisasi ia baru Melek akan permasalahan mempengaruhi lingkungan sekitar.
Apa yang kita dapat itu bisa di share kepada teman-teman kita yang tidak
berorganisasi. Sehingga mereka tahu permasalahan yang ada di masyarakat dalam
organisasi. Tambahan dari Pemateri Ketenaran itu perlu. Karena itu kebutuhan. Semua
bisa terjadi di mulai dari sekarang.
Winda: Penelitian ilmiah dan pelatihan untuk menyiapkan para ilmuan itu seperti apa? Pelatihan ilmiah
mahasiswa minim punya 1 karya yaitu Skripsi bukan mahasiswa jika tidak punya skripsi
jika 4 tahun hanya punya 1 karya kemana saja selama 4 tahun ini. Mahasiswa harus
membaca menulis dan diskusi. Carilah sosok senior yang mampu menjadi teladan yang
baik ikut organisasi yang benar-benar nyata dan mendidik.
Dan penutupan diskusi ini ditutup dengan nonton bareng
Tragedi jakarta 1998 (Mei 199).
Pesan dari
Pemateri: jangan berfikir sok-sok an tinggi tapi jika sudah waktunya ada saatnya kita punya power dan barulah
merubahnya. Ada dua kemungkinan "kita masuk kedalam sistem atau menantang sebuah sistem"

yang tabrak coba kasih tanda petik. karena memiliki arti tersirat :D...
BalasHapusbukan mengawali kebijakan tetapi mengawal kebijakan.
. dari mas rian. : 2 opsi mahahasiswa masuk kedalam sistem dan merubahnya atau menantang sebuah sistem.
kata tabrak aku kira itu kata baku mas, yang kata mengawali saya salah ketik itu, kalau tentang pesannya mas rian saya salah dengar.. hehehe
BalasHapusmakasih mas wendy buat kritikkannya