Kamis, 24 Maret 2016

Diskusi Mahasiswa Pendidikan Luar Sekolah (DISMA PLUS)



              Tak henti-hentinya HMJ PLS mengadakan acara, kemarin saja organisasi ini baru saja mengadakan sebuah acara FORKOM (Forum Komunikasi) dan Rabu, 23 maret 2015 HMJ PLS melaksanakan kegiatan yang tidak kalah menariknya dari acara sebelumnya yaitu Peran Mahasiswa di Dalam dan di Luar Kampus yang ketua pelaksananya yaitu Desfian Eka Ariwiguna 2015 off A, notulen Heni Wijayanti 2015 off A, moderator Diah Ayu Rohmani 2015 off A, dan pemateri yang bisa dibilang sudah banyak pengalaman dalam berorganisasi dan khususnya dalam lingkung PLS, yaitu bernama Rian Firmansyah angkatan 2012 konsentrasi pelatihan ia dari nganjuk yang terkenal dengan kota anginnya, ia alumni SMA Negeri 1 Gondang jurusan IPA. Pemateri ini dulu keterima di UM lewat jalur SMPDS (program pembukaan kedua) padahal ia sebelumnya sudah keterima di UNESA jurusan sejarah tapi sayangnya tidak diambil karena ortunya tidak setuju (berbakti banget ya pemateri kita kali ini) dan akhirnya ia telah dijodohkan dengan jurusan PLS di Universitas Negeri Malang. Asal mula ia memilih jurusan PLS katanya kepleset dan ia telah punya niatan untuk keluar dari jurusan PLS waktu semester 2, berarti 1 tahun ia belum kenal tentang PLS sesungguhnya bisa dibilang mati suri, tapi berkat matkul dari Bapak Zulkarnain dan Kak Tara dari UNESA akhirnya pemateri ini sadar bahwa: perubahan sosial yang bisa merubah hanyalah orang-orang dari Pendididkan Luar Sekolah.
Dalam makna pidato Ir Soekarno di hadapan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat pada tahun 1956 tersebut kita dapat mengenang pahlawan-pahlawan dan aktor intelektual yang berpendidikan tinggi. Baik tidaknya masa depan dapat dilihat saat ini. Akademi militer, polisi itu juga mahasiswa sama-sama kritis dalam mencapai tujuan bangsa Indonesia dan sadar pentingnya mencari ilmu. Ilmu bisa didapat melalui SKS, Organisasi, maupun di luar jurusan,  dan kita bisa peroleh ilmu itu di lingkungan kampus tercinta (Universitas Negeri Malang).
         A.    Perguruan Tinggi dan Tradisi Akademik
Mahasiswa di tempa di kampus untuk mengetahui pentingnya pendidikan, maka jangan perpreksi ke arah pekerjaan terlebih dahulu. Kita seorang mahasiswa, dan dosen itu bukan priyayi yang harus di tiru tapi  dosen itu sebagai patner diskusi dan sharing-sharing tentang PLS khususnya. Mahasiswa harus mampu melahirkan karakter yang mandiri, reflektif dan kritis.
Menurut (Jose Ortega dalam Minhaji,2013:9) bahwa tugas pokok perguruan tinggi mencakup tiga hal:
1). Transmisi budaya, freksibel dan dinamis. Tidak usah muluk-muluk simpel saja mulailah hal yang terkecil dan bisa berguna khususnya dimasyarakat. Itu saja sudah dinilai + sebagai mahasiswa PLS.
2). Pengajaran tentang profesi, tutor fasilitator keahlian dibidang PLS harus diterapkan.
3). Penelitian ilmiah dan pelatihan untuk menyiapkan para ilmuan, orang yang tidak ahli dalam ilmiah berarti ia tidak bisa melakukan penelitian. Misalnya di sebuah desa tidak ada karang tarunanya, Mahasiswa PLS di ajarkan tentang pengabdian masyarakat, organisasi dan diskusi inovasi dari sinilah mahasiswa PLS bisa menerapkannya di desa tersebut.
      B. Sejarah Pergerakan Mahasiswa
Organisasi Nyetrik yaitu Sarekat Priyayi (kumpulan orang-orang priyayi) pada tahun 1906 pendirinya adalah Tirto Adi Surya jebolan dari STOVIA. Pada tahun 1908 berdirilah Boedi Oetomo dengan dipelopori oleh pemuda dan mahasiswa yang berada di STOVIA. Dokter menghimpun masyarakat untuk suatu gerakan, penyadaran terhadap pentingnya kemerdekaan, pentingnya perebutan hak asasi. Didiklah masyarakat dengan organisasi didiklah pemimipin dengan perlawanan.
Banyaknya organisasi di luar kampus, organisasi kampus baik, asal tidak multipraktis dalam intra kampus tapi sebaiknya lebih menuju ke kegiatan masyarakat. Tapi jika kita bergabung di organisasi cuma beralasan pekerjaan lebih baik Jangan. Sama saja itu seorang pecundang bukan sebagai perintis. Mahasiswa PLS tidak diajarkan sebagai pecundang tapi seorang perintis.
     C.   Peran dan Fungsi Mahasiswa
Membicarakan soal peran dan fungsi mahasiswa di era teknologi yang semakin canggih seperti sekarang bisa dikatakan munafik dan omong kosong.
1.      Agent of Change (Generasi Perubahan)
Mahasiswa mempunyai peran dan fungsi sebagai agen perubahan. Hanafi (1993:61) menyebutkan bahwa “Agen pembaharu harus sebagai jembatan antara dua sistem yang berbeda haruslah sosok yang marginal yang satu kakinya didunia lembaga pembaruan dan yang lainnya di sistem binaan”. Tanpa merapat dan bergabung dengan suatu komunitas atau organisasi merasa usaha menjadi agen of change hanyalah sebuah jargon busuk.
2.      Social Control (Kontrol Sosial)
Fakta yang terjadi saat ini mahasiswa hanyalah sibuk dengan nilai IPK, atau bisa dikatakan hanya kognitif oriented. Tiga pokok yang harus dihidupkan di perguruan tinggi yaitu pengajaran penelitian, penelitian dan pengabdian masyarakat.
3.      Iron Stock (Generasi Penerus)
Mahasiswa dijadikan sebagai stock bangsa kalau stocknya sudah brobrok atau rusak, sebaiknya bangsa dihilangkan saja dan semoga Indonesia menjadi sejarah. Hilang kalau generasi penerus tidak benar-benar di memperbaikinya.
4.      Moral Force (Gerakan Moral)
Mahasiswa sebagai penyadar di lingkungan masyarakat tentang moral-moral yang ada. Kita bukan enerasi wacana, kita bukan generasi beo. Kita Perubahan, Kita Penggerak, dan Kita Perebut.

Pendapat Diskusi:
Wahidin: Bagaimana cara mempertahankan idealis kita dan mengembangkannya jika lahan mahasiswa hanya dikampus, atau mempertahankan idealisme ketika diluar kampus misalnya di masyarakat? Ketika didalam kampus buatlah hal seideal mungkin, karena jika keluar kampus akan sangat sulit dan mudah tersingkir. Masuk sistem dan perubahannya harus di siasati dan buat sebuah perubahan. Hidup harus idealis tapi harus lihat siskon. Sebaiknya masuk sistem dulu, asal bisa menajemen resiko.
Tambahan diskusi dari Wendy: kita harus ada kemauan dan kesempatan jika ada yang menghalanginya "tabrak" saja selama kita benar dan ada kesempatan, wujudkan tujuan yang memang benar-benar kamu inginkan.
Wahid: Mahasiswa itu sebagai agent of change, di dalam kenyataan mahasiswa PLS idealnya itu seperti apa? Idealnya tidak bisa diterapkan. Bergabung dengan komunitas/ organisasi karena akan menjadi lahan kita di tempa, agar siap terjun langsung ke masyarakat. Baca referensi yang ada pada katalog karena itu akan sangat bermanfaat. sebelum menjadi mahasiswa mandiri kita butuh bimbingan. Ciri khas PLS yaitu Berfikir beda, memiliki cara pandang lain dengan jelas dan aktif  dikegiatan masyarakat. bukan hanya memberi uang (seperti baksos) tapi juga harus bisa membangun motivasi.
Ridwan: Ciri-ciri mahasiswa mandiri itu sudah mampu dibangun, bersifat reflektif setiap kegiatan yang di lakukan harus di refleksikan, kritis mahasiswa banyak yang kurang kritis. ketika punya pendapat mereka takut menyampaikan. Itu bagaimana, apa mental yang hraus dibangun atau lingkungan yang membuatnya seperti itu? Setiap angkatan memiliki gaya sendiri-sendiri untuk menyikapi kritis. Contoh PKM (Program Keluhan Mahasiswa) itu tidak sesuai masuk dalam sks. Pkm menjadi bahan uas. banyak literasi dan bacaan maka berani mengkritis. Jika tidak ya ngikut dan mengikuti alur. Membiasakan masuk dan berkecimpung dimata kuliah. Secara tidak langsung kita ditekan. Jika ingin kreatif butuh sebuah kebebasan. Balajar dari pengalaman yang memiliki banyak wacana dan rasa ingin tahu yang tinggi. Jika ingin kritis ya harus memiliki banyak wacana. Pkm sekarang telah menjadi momok untuk mahasiswa jika tidak dikerjakan berarti ia berdosa. Pkm itu menulis tapi kita belum diajarkan penulisan yang baik, ajarkan dulu entah sharing dengang senior. Jangan langsung pukul rata, Pkm sekarang dengan paksaan karena jurusan ingin akreditasi A layak. Kalau Pengen kritis banyaklah wacana dulu, banyak sharing, banyak sumber daftar pustaka jurnal dll. Takut mengungkapkan pendapat itu hal yang wajar. Jika ingin belajar secara cepat maka belajarlah berorganisasi. Puncak kebutuhan adalah aktualisasi diri. Tunjukan jika kita bisa dan mantapkan tujuan kalian.
Niko : tidak setuju dengan point ke empat yang bagian moral force. Itu tugas mahasiswa yang di hukum bukan tugas mahasiswa di FIP. jalan yang lurus adalah urusan agama. Tanggapan dari Nizar: ia setuju dengan moral force (generasi penerus dan pelurus). Sistem jika dianalisa blenggar dengan apa yang kita tujukan. Bagaimana cara kita untuk meluruskan itu tugas kita, sebagai gerakan pengubah moral.
Tambahan diskusi dari Ardiansyah: Peran mahasiswa harus punya Tujuan, manusia saja punya tujuan (tujuan hidup) apalagi mahasiswa. Tekankan tujuan yang lebih baik dari kemarin jangan menjadi mahasiswa yang hanya menjadi Kupu-kupu. pertegaslah tujuan dan jangan mau menjadi pengikut.
Tambahan diskusi dari Wendy: Peran mahasiswa PLS ciri khasnya yaitu rasa toleransi dan rasa menghargai tinggi. Sumber ilmu pertama dari kakak tingkat, kedua teman, ketiga baru dari dosen. Mengawal kebijakan sendiri jika salah dibenarkan. Kawal yang menghimpun kita, organisasi HMJ bukan hanya milik anggota saja tapi milik bersama (semua mahasiswa PLS).
Pengalaman dari Ana: ini masalah dengan kritik dan tujuan, hal sepele dikelas, istirahat jam 12.10 kita mahasiswa yang baik itu tidak korupsi waktu. Sekarang menunjukan jam 12.00 ada salah satu teman kalian yang ingin bertanya ke dosen, seharusnya kita mendukungnya bertanya bukan malah melototinya dengan alasan jam sudah mepet. dari diri orang lain sebaiknya kita juga mengkritiskan diri kita sendiri. Dan mulai sekarang kita dukung teman-teman kita yang ingin bertanya meskipun jam sudah mepet.
Pengalaman dari Alifiah: peran mahasiswa pengalaman itu bisa merubah dunia diri kita dan merubah dunia sekitar. Merubah diri kita yang pertama yaitu merubah mainset diri kita sendiri, bahwa pendidikan itu penting. Ternyata skill harus diimbangi dengan pengetahuan. Sejak ia bertemu kakak tingkat yang terkenal (Endah Setiyowati) di organisasi kita baru tahu bagaimana cara menghadapi masalah. Di dalam organisasi ia baru Melek akan permasalahan mempengaruhi lingkungan sekitar. Apa yang kita dapat itu bisa di share kepada teman-teman kita yang tidak berorganisasi. Sehingga mereka tahu permasalahan yang ada di masyarakat dalam organisasi. Tambahan dari Pemateri Ketenaran itu perlu. Karena itu kebutuhan. Semua bisa terjadi di mulai dari sekarang.
Winda: Penelitian ilmiah dan pelatihan untuk menyiapkan  para ilmuan itu seperti apa? Pelatihan ilmiah mahasiswa minim punya 1 karya yaitu Skripsi bukan mahasiswa jika tidak punya skripsi jika 4 tahun hanya punya 1 karya kemana saja selama 4 tahun ini. Mahasiswa harus membaca menulis dan diskusi. Carilah sosok senior yang mampu menjadi teladan yang baik ikut organisasi yang benar-benar nyata dan mendidik.
Dan penutupan diskusi ini ditutup dengan nonton bareng Tragedi jakarta 1998 (Mei 199).

Pesan dari Pemateri: jangan berfikir sok-sok an tinggi tapi jika sudah waktunya  ada saatnya kita punya power dan barulah merubahnya. Ada dua kemungkinan "kita masuk kedalam sistem atau menantang sebuah sistem"

2 komentar:

  1. yang tabrak coba kasih tanda petik. karena memiliki arti tersirat :D...
    bukan mengawali kebijakan tetapi mengawal kebijakan.
    . dari mas rian. : 2 opsi mahahasiswa masuk kedalam sistem dan merubahnya atau menantang sebuah sistem.

    BalasHapus
  2. kata tabrak aku kira itu kata baku mas, yang kata mengawali saya salah ketik itu, kalau tentang pesannya mas rian saya salah dengar.. hehehe
    makasih mas wendy buat kritikkannya

    BalasHapus